Wednesday, January 12, 2011
Renungan Pasca Merapi
Monday, December 13, 2010
the Second Jogja Hilton
Monday, November 8, 2010
Coretan 8 november 2010 (Duka dari korban merapi)
Perjalananku dari jawa timur harus dilanjutkan menuju posko bantuan merapi. Salah seorang anggota posko menghubungiku untuk meminta bantuan sebagai tim Search and rescue (SAR) korban merapi. Kesempatan yang tidak akan kusia-siakan. Pukul 3 pagi kami berangkat menuju base camp TIM SAR DIY di daerah kaliurang. Briefing sejenak menjadi bekal kami untuk pergerakan yang matang. Dengan mobil pick up kami diberangkatkan menuju lokasi pencarian, tepatnya di dusun Ngancar. Di tempat ini diduga terdapat 2 korban yang masih belum ditemukan. Beberapa rumah yang telah tertimbun tanah kami susuri. Tak kusangka dampaknya sehebat ini. Rumah-rumah warga terendam material panas hingga setengahnya. Gemuruh merapi juga sangat terasa disini. Sempat kami terpontang-panting, berlarian menuju armada pengangkut ketika beberapa saat gemuruh merapi terdengar agak keras. Benar kata teman-teman TIM SAR, disini kita menguji adrenalin. Setelah reda, pencarian kembali dilanjutkan menuju rumah di area bawah, beberapa meter melangkah, terlihat seonggok benda yang kami taksir itu adalah tangan manusia. Dan benar saja, setelah kami periksa memang itu adalah salah satu bagian tubuh manusia. Kami mencoba mengggali untuk melihat bentuk keseluruhannya. Dan ternyata bagian tadi adalah kaki. Korban terlihat meninggal dengan posisi telungkup dan dalam keadaan gosong. Belum selesai mengevakuasi 1 korban, teriakan salah satu anggota tim di area bawah mengalihkan perhatian kami. Ditemukan 1 korban lagi. Seorang mayat dengan jenis kelamin laki-laki (maaf:terlihat dari kelaminnya sendiri) telah meninggal dengan posisi terlentang dengan kaki kiri berada lebih tinggi. Dua korban segera kami evakuasi menuju titik aman.
Sungguh miris aku melihat saat itu, bahkan ada beberapa teman yang muntah tak tega melihatnya. Untungnya aku tidak, dan saat itu aku berfikir “akan seperti inikah semua makhlukmu akan kembali padaMu Tuhan”. Hari itu, total telah ditemukan 5 korban yang telah berhasil dievakuasi di dua titik yang berbeda, dan dengan kondisi yang bermacam-macam pula. Ada yang setengah gosong, ada yang gosong, ada yang cuman bagian perut keatas (karena tidak memungkinkan melakukan evakuasi secara utuh), ada yang telah menjadi tulang belulang, dsb. Begitulah gambaran umum tentang bahaya merapi. Sangat berharga bagi diriku dan kita semua untuk dijadikan sebagai bahan evaluasi agar lebih mendekatkan diri pada Ilahi.
Kita butuh uluran tanganmu kawan, kita butuh genggaman erat tanganmu dan kita butuh hangat pelukmu.
catatan 6 November "Road to semarang-surabaya by becak"
Aku mulai berjalan lagi weekend ini, kembali menuju timur. Berangkat pukul setengah 2 pagi tak menyurutkan niatku. Jogja sedang genting waktu itu, akibat ulah Merapi yang sepertinya sedang resah. Tapi mau bagaimana. Titah ayahanda harus dilaksanakan.
Jalanan sudah agak sedikit tidak berdebu, hujan sepanjang malam itu telah menidurkan abu-abu jalanan yang telah berkeliaran seharian kemarin. Bis yang kutumpangi juga terlihat sepi, hanya 3 orang bapak dan seorang ibu yang sedang tertidur pulas. Aku memlilih kursi 3 seat bi barisan nomor 2, tempat favoritku dan cukup leluasa buatku untuk “selonjoran”. Dengan ditemani sebuah buku “Norman Edwin ‘catatan sahabat sang alam’ ” aku menghabiskan separuh perjalananku malam itu. Aku terkesan dengan sosok yang satu ini, seorang plagiat alam bebas sejati yang tidak begitu suka dengan hiruk pikuk politik pejabat. Seorang naturalis sekaligus jurnalis handal yang telah meninggal dengan tenang di pelukan Aconcagua. Aku lihat tulisannya sangat ilmiah, sebuah catatan perjalanan yang aku pikir sangat layak untuk dijadikan referensi. Aku kagum bagaimana dia meyingkap tabir di balik proyek besar waduk Gajah Mungkur, bagaimana dia menekankan pada kesiapan dan kewajaran masyarakat terhadap bencana alam yang dia contohkan lewat tragedy meletusnya Gunung Galunggung tahun 1982. Sangat kritis dan informative.
Hmmm…bacaan yang cukup membuatku berfikir, setidaknya menjagaku agar tidak tertidur. Sampai di Ngawi kudengar sayup-sayup kumandang adzan subuh. Dan kuputuskan untuk menghadap Sang Maha. Selesai itu kujumpai seorang bapak berkumis tebal yang tampak kusam, sedang bersenda gurau dengan seorang wanita yang ternyata adalah istrinya. Mereka ditemani 2 bocah yang kutaksir berumur 1-2 tahun, sedikit kumal memang. Mereka banyak bertanya soal Merapi setelah tau kalau aku dari jogja. Hmmm, aku lihat jiwa ke”Indonesia”annya, terlihat seperti merasakan apa yang dialami sodara-sodara sebangsanya yang sedang berduka. Dia juga menceritakan bagaimana perjalanannya menuju Surabaya dari Kota Semarang yang ternyata dengan mengendarai sebuah becak. Jujur, hatiku berdecak kagum waktu itu, sebuah perjalanan keluarga yang tidak biasa. Road to Semarang-Surabaya by becak. Sepertinya Norman Edwin akan merasa iri pada mereka. Kadang, keadaan ekonomi membuat seseorang terlihat adventuris kawan.
Dan satu hal yang membuat hatiku berlinang kawan, dia bilang “hati-hati ya!”. Sebuah kalimat yang seharusnya kuucapkan pada mereka. Kami seolah telah berkawan lama, panggilan “dek” kepadaku semakin membuat hubungan kami tampak intim.
Dan sekali lagi aku merasa guru-guru di sekolah jalananku takkan berhenti sampai sini.
Thursday, October 21, 2010
Coretan 18 Oktober 2010
Aku suka perjalananku kemarin malam, sedikit kehujanan, makan di perempatan kota, teh hangat idaman, mesjid yang nyaman dan obrolan renyah dengan pak polisi.
Kumulai satu persatu, sepulang kuliah sore aku sedikit berfikir untuk bepergian. Sebenarnya minggu kemarin aku udah bepergian. Tapi waktu itu agendaku adalah mencharge power adventure feelingku, tapi sekarang aku butuh mencharge travelling soulku, sepertinya kursi busa bus malam telah menjadi kursi goyangku, membuatku selalu merindunya. Tak tahan aku berpisah lama. Sekarang aku mulai perjalananku ke timur, berdesakan dengan penumpang bis adalah hobiku. Malam itu hujan mengguyur jalanan, memperkecil gaya friksi bis yang kutumpangi, dan sepertinya pak supir juga sedang tidak dikejar anjing. Sedikit lambat memang, tapi sangat pas. Pas dengan suasana hatiku yang sedang melepas sedikit penat. Tapi semuanya tak mengahambat para pengamen yang datang silih berganti. Hingga saat “sarjana muda” bercokol diantara tangga lagu pengamen itu. Status yang akan kusandang kelak, aku mengikuti lagu itu, mengimajinasi setting dan membayangkan kalau pemeran utamanya adalah aku. Tapi, agaknya harus ku”cut” lamunan ini. Tugasku sekarang bukanlah memikirkan pekerjaan apa yang akan aku jalani kelak. Banyak teori termodinamika yang belum kupikirkan, bahkan untuk sekedar melamunankannya, banyak persamaan differensial yang belum kupecahkan, bahkan belum sama sekali. Tugasku sekarang adalah menuntut ilmu. Hehhee…
Sampai di sebuah kota, kuputuskan untuk berhenti. Dan memang harus berhenti, karena aku akan meneruskan perjalananku ke utara. Hujan malam itu sepertinya telah menyembunyikan keramaian kota ini, jalan-jalan terlihat sepi. Hanya terlihat tukang becak dan penjual gorengan yang sedang mangkal diperempatan. Dan imbasnya pada bus ke utara yang memang tidak terlihat setelah kutunggu beberapa menit. Dan manisnya adalah bis baru ada besok pagi. Hmmm…sepertinya malam menyuruhku menghangatkan kota ini. Achh…sepertinya aku akan dapat pelajaran baru!!begitu pikirku. Aku memang selalu merasa akan ada materi-materi berharga yang akan kudapat saat kujumpai kejanggalan, ketidakteraturan, ketidakbiasaan.
Kuputuskan untuk berlabuh di penjual gorengan seberang jalan, sekedar menghangatkan badan dengan teh hangat dan mengisi perutku yang mulai kelebihan asam. Nikmat sekali malam itu, syukurku hanya untukmu ALLAH. Beberapa gorengan juga telah berhasil ku eksekusi. Gurauanku dengan si penjual gorengan semakin menghangatkan suasana. Dan dari dia kuketahui bahwa dia adalah seorang sarjana. Sarjana kehutanan, begitu katanya. Seorang sarjana yang dulunya eksis sebagai pemusik local. Aku jadi teringat dengan “sarjana muda” tadi. Dari dia pula aku merasa harus menilik kembali aktivitas perkuliahanku, aku seperti dipaparkan tentang hasil evaluasi selama beberapa tahun saat status kemahasiswaan masih melekat padanya. Harusnya aku memberi pelajaran ini dengan bobot 6 sks, tetapi keharusanku untuk bangun pagi besok memaksaku untuk segera menuju hotel berkubah di pojok perempatan, hotel dengan kamar tak bersekat, hanya beralas karpet sudah cukup menghangatkanku. Ya…masjid, begitu biasa orang menyebutnya. Aku begitu menyukai masjid saat bepergian, tak perlu takut kesiangan, tak perlu takut bayar ongkos. Hmmm…
Aku begitu pulas, dan terbangun saat jarum panjang menodong angka 6 dan jarum pendek menunjuk di celah 34. Buru-buru kubasuh mukaku, kuangkat hadast kecilku dan segera kupakai sepatuku untuk menunggu bis yang katanya telah ada pada jam-jam ini. Kutunggu beberapa menit, bis tak kunjung datang. Kudengar handphoneku mengaduh.. “low battery”. Aku melihat pos polisi yang masih terjaga di seberang jalan. Kuputuskan untuk “nebeng” ngecharge, hmm…polisi itu ramah sekali, obrolan kami tentang dunia kepolisian serta komentar-komentarku tentang itu memang terdengar renyah. Berkali-kali beliau melontarkan slogan bahwa “polisi itu tugasnya adalah melayani, melindungi dan mengayomi” dengan penuh semangat. Dari beliau juga kudengar keluhan-keluhan serta harapan-harapan beliau pada kepolisian RI. Pagi yang dingin memang, tapi telah menghangatkanku pikiranku untuk terus berpikir. Sepertinya inilah materi-materi yang telah kudapat.
Hmmm…banyak guru yang telah kutemui di sekolah jalanan ini….banyak ilmu yang telah kudapat dari situ. Dan masih banyak cerita dan ilmu tercecer yang akan dan harus kukumpulkan di jalan-jalan di berbagai belahan dunia ini teman…