Showing posts with label Event. Show all posts
Showing posts with label Event. Show all posts

Tuesday, May 8, 2012

Prasangka Camping Purnama

Camping Purnama

Mereka terlihat tak sabar menunggu, beberapa anak sudah duduk rapi dengan pakaian muslim hijau di teras panti. Beberapa terlihat mondar-mandir, sepertinya mereka gelisah. Menunggu jemputan yang akan membawa mereka ke arena baru. Ya, begitulah yang terlihat olehku ketika menjemput adik-adik panti asuhan Al-Wahab.  Langit terlihat gelap sekali, bahkan beberapa saat sebelum sampai rumah mereka, hujan rintik perlahan mengencang. Tapi tak apa, nyatanya deru mobil yang masuk halaman panti membuat mereka bersorak. Apalagi setelah melihat seorang gondrong keluar (itulah diriku) yang seminggu lalu mereka lihat saat pengumuman acara ini oleh Mas Pago Hardian (Pengasuh Panti). Mereka seperti tak sabar ingin segera berangkat, satu persatu masuk angkutan, riuh sekali. Tanpa ijin Mas Pago, aku bawa saja mereka. Toh, nanti juga akan balik menjemput beliau. 
Di perjalanan mereka tak henti bertanya, seolah hantu penasaran yang tidak berhenti mengusik. 
“mas, tempatnya dimana sih?” seorang bocah lugu yang duduk disebelahku bertanya. Dari belakang pun mereka bersahutan dengan pertanyaan ini-itunya. 
Aku gembira melihat antusiasme mereka, terdengar juga rencana-rencana yang akan mereka lakukan setiba disana. Tetapi diluar sana, langit tak terlihat secerah wajah mereka. Mendung semakin pekat, hujan mulai mengguyur. Semakin lama, semakin deras.
Ada kekhawatiran menyelimutiku ditengah kelokan-kelokan jalanan Condong Catur. 
“apakah nanti mereka akan gembira?, bukankah acara ini adalah acara alam terbuka. Yang sangat tergantung pada perintah Allah pada alam raya-Nya”

 beberapa saat aku terdiam.
“tidakkah mereka kecewa, kecewa karena suka cita itu ternyata hanya imaji?. Maaf adik, sepertinya kami akan mengecewakanmu”, 

membuatku mengambil jalan yang kurang tepat. Ya, kami akhirnya harus menerobos jalan-jalan kecil karena lamunanku ini. 
Ringroad Utara terlihat sepi. Di beberapa titik, air menggenang cukup dalam, menyebabkan tembakan-tembakan air ke arah samping. Mereka tertawa, gembira sekali saat-saat air termuncratkan kembali. Lagi, dan lagi.
Ternyata lamunanku hanyalah prasangka, bahkan ketika sampaipun mereka masih meluap bergembira. Alhamdulillah, perlahan deras berubah menjadi rintik. Tetapi tidak berlaku pada perubahan suasana hati mereka. Mereka tetap bergembira.
-00-
 Apakah sebenarnya acara yang mereka nantikan akhir pekan ini, tanggal 5-6 Mei 2012.  Ya, itulah yang kami sebut sebagai Camping Purnama. Bertepatan dengan malam bulan purnama, mereka kali ini di ajak untuk menjamah alam, mencoba keluar dari kelas-kelas berdimensi kecil. Menikmati anugrah Allah, alam semesta raya, tanpa tedeng aling-aling. Langit sudah membentang, bulanpun tak mau kalah, diam-diam ia mulai mempersiapkan diri di balik awan. Lamat-lamat terdengar adzan isya saat aku sampai bersama rombongan kedua penjemputan di Lokasi. Kali ini, giliran kami mempersiapkan diri untuk bersujud.
        
Shaf-shaf sudah terlihat rapi dan siap. Mas Pago sebagai imam mulai bertakbir
“Allahu Akbar”,
alunan suara itu begitu menghujam, menuntut pada kerendahan hati manusia. Ayat-ayat Allah kali mulai berkolaborasi menyentuh sanubari. Ayat-ayat qouliyah-Nya terdengar begitu syahdu bersama iringan orkestra ayat-ayat kauniyah-Nya. Ya, dentuman kodok itu, kirikan sayap-sayap belalang itu, hembusan angin dan gemericik aliran sungai seperti ingin ikut andil dalam panggung dzikir kali ini.
-0-

Acara dilanjut dengan sepatah kata penyambutan dari mas Zaeni Cantigi selaku fasilitator, berikut perkenalan dari teman-teman yang ikut berpartisipasi. Dan kemudian dilanjut dengan games yang dipandu oleh mas Warno sembari menunggu makan malam yang sedang disiapkan.

Ikan Nila bakar malam itu berbeda sekali dari biasanya. Ada rasa syukur dan suara doa-doa anak-anak itu yang ikut membumbuinya. Hujan masih turun rintik-rintik, meskipun begitu tak menyurutkan niat kami menyiapkan agenda menonton yang sudah kami siapkan. Sekeping VCD Harun Yahya sudah tersaji. Di bioskop alam ini, mereka disuguhi film-film tentang penciptaan semesta, sama seperti semesta yang disuguhkan Allah kepada kami malam itu. Sesekali film tersendat, tapi tak jadi masalah besar, ada mas Peri dan mas Yudi yang tersedia untuk menangani. Moment itu tak dilewatkan begitu saja, ada jagung yang siap dibakar di bara unggun, sambil bersenandung bersama alunan sholawat Ust. Jefri dan mas Opick yang diputar kala itu.

Malam semakin larut, bulan ternyata tak juga menampakkan diri. Terlalu malukah ia bertemu anak-anak itu malam ini?. Tetapi, berkas-berkas kecil sinarnya telah menerobos bilik awan dan menyinari kami malam itu. Sudah saatnya tidur.
-0-
Di saung itu, mas Wisnu (ditemani oleh sang asisten, mas Arief), seorang mahasiswa ISI Jogja, belum juga ingin tidur. Malam ini ia ingin melukis sebuh pesan, yang nantinya akan ia hadiahkan kepada adik-adik kecil kami. Ada guratan biru yang mendominasi, turbulensi warna merah dibagian bawah juga terlihat, ditambah lagi bercak-bercak kuning yang ia tambahkan diakhir, membuat siapa saja ingin mengartikan maksudnya. Tapi yang pasti kuyakin bahwa isinya adalah sebuah energi positif yang akan terekam di memori mereka dan menjadi bahan picu kesuksesan dikemudian hari (amin).

Pukul 04.30, tepat setelah lukisan selesai, anak-anak mulai terbangun oleh suara mas Pago. Ya, sholat tahajjud akan mengawali agenda pagi ini. Bersama malaikat dan makhluk-makhluk yang senantiasa bertasbih kami bersujud kepada-Nya.
-0-
Selepas shubuh, mereka bermain. Tanah becek ternyata mejadi arena bermain tersediri bagi mereka. Jalan pagi di pematang sawah, melukis dengan lumpur, perang lumpur, flying fox dan juga Tubing di sungai telah menjadi rentetan agenda bermain mereka pagi itu. Sekali lagi, ternyata perasaanku di awal hanya lah prasangka. Sepertinya aku harus lebih berhati-hati dengan prasangka. Nyatanya hingga saat kuantar merekake rumah, hanya gembira yang terpancar berikut senyum bahagia yang ia tinggalkan di tepi Kali Winongo ini. Ya, mereka gembira, lagi dan lagi.

Foto Dokumentasi di sini 

Wednesday, April 4, 2012

Belajar Merawat Indonesia

               Beberapa orang sudah memenuhi barisan kursi depan sebelum jam menunjukkan pukul 08.00. Antusiasme peserta sudah terasa sejak awal. Peserta memang didominasi oleh mahasiswa UGM, tetapi dari list peserta tampak ada juga beberapa kampus sekitaran Jogja bahkan terlihat dua peserta dari Unpad.
            Pak Dahlan Iskan
          Semua terlihat riuh ketika pak Dahlan Iskan berjalan dari belakang menuju panggung. Setelan kemeja putih dan sepatu kain hitam, dan tentu tak lupa sepatu ketsnya yang belakangan menjadi fenomenal itu. Didampingi pak Rektor UGM terpilih, Prof. Pratikno, dan juga para pembicara lain, pak DIS terlihat sangat energik.
            Di dalam uraian singkatnya, pak DIS banyak menekankan pada urgensi pengentasan masalah pangan dan energi. Memang dua hal itu menjadi topik tersendiri, mengingat pangan merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Mungkin masyarakat masih ingat dengan swasembada pangan yang sempat melanda Indonesia pada masa lalu. Dan juga energi yang menunjang kemajuan hidup manusia. Kedua hal ini memang sangat riskan untuk dimonopoli, karena memang tuntutan kontinuitasnya tak bisa ditolerir lagi. 
            “1.8 juta ton impor pemerintah masih impor beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat”  begitu kata pak DIS. Bukankah negara kita adalah negara agraris, kalaupun itu istilah untuk Indonesia masa lampau, minimal masyarakat harus tau bahwa itu artinya kita punya potensi, khususnya untuk SDM dan lahan. Tinggal yang menyebabkan kita tetinggal jauh dari Thailand dan Filipina adalah teknologi, baik kualitas bibit maupun mekanisasinya.
            Oleh sebab itu, muncul beberapa program pemerintah melalui BUMN yang berada dibawah kepemimpinan pak DIS dalam upaya mengupgrade kualitas pertanian Indonesia. Diantaranya adalah :
1.      Yarnen (Bayar waktu panen)
Mekanismenya yaitu petani dapat meminjam bibit kualitas bagus kepada pemerintah berikut pupuk dan pestisidanya. Nanti biayanya akan dibayar saat panen. Program ini digagas mengingat bahwa petani kita ketika menggarap masih belum dengan kualitas bagus. Contohnya karena tidak punya uang, petani akan membeli bibit dengan kualitas seadanya. Maka yang kemudian dihasilkan saat panen adalah gabah dengan jumlah seadanya. Bisa dikatakan bahwa produksi pangan unggul masih terabaikan. Bayangkan sebelumnya rata-rata hasil panen petani adalah 5.1 ton/Ha, tetapi lewat program ini rata-rata petani sudah dapat menghasilkan 7 ton/Ha. Hasil yang cukup signifikan. Yang pasti kedepan harus lebih bisa ditingkatkan dengan target hingga tonase tertentu. Sudah ada 1.2 juta hektar lahan yang disiapkan untuk kelanjutan program ini.
2.      Proberas
Konsepnya yaitu petani menyerahkan sawahnya untuk kemudian dalam penggarapannya akan difasilitasi oleh BUMN, tetapi yang menggarap tetap petani tersebut. Tapi nantinya BUMN akan meminta 5.5 ton per hektar, dan sisanya akan diberikan sepenuhnya kepada petani.
Mari kita doakan dan kita dukung agar hal-hal ini menjadi solusi.
            Penjabaran singkat mengenai program-program itu diharapkan dapat direspon positif oleh masyarakat. Dan masyarakat mahasiswa tentunya harus menjadi pioner dalam membangun optimisme dan sikap positif itu. 
            Perlahan cahaya pagi semakin meninggalkan gedung Purna Budaya itu, pak DIS semakin bersemangat begitu pula para peserta. Ada hal unik yang dikatakan beliau mengenai shoping idea dan shoping spirit, menunjukkan betapa beliau tak pernah berhenti mencari dan bekerja keras. Shoping idea biasa beliau lakukan dengan berkunjung ke Amerika minimal 6 bulan sekali saat masih menjabat pimpinan Jawa Pos. Itu dilakukan untuk mencari ide-ide menarik yang mungkin bisa dikembangkan dan diterapkan di Indonesia. Sebuah pesan bahwa sebenarnya tak ada salahnya meniru ketika hal tersebut membawa manfaat dan masih dalam konteks prosedural. Shoping spirit beliau lakukan dengan mengunjungi Tiongkok. Kenapa Tiongkok?, mungkin karena Indonesia dan RRC adalah sesama negara berkembang yang juga sedang sama-sama membangun. Dan mungkin masyarakat RRC lebih memiliki optimisme dan sikap positif dalam mengembangkan dan memajukan negaranya. Bahkan gagasan-gagasan beliau tentang solusi pangan Indonesia juga banyak merujuk dari RRC.
            Selain itu, beliau juga berbicara mengenai kebutuhan daging sapi. “Tahun 2011, Indonesia impor sapi 350 ribu ekor” begitu kata pak DIS. Beliau mengungkapkan bahwa masalah yang muncul dari peternak sapi adalah harga pakan yang semakin mahal. Beliau kemudian membuat teknik ternak sapi yang diintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit (yang dikelola PTPN). Jadi jarak atar pohon  kelapa sawit akan digunakan untuk ternak sapi. Untuk pakan sapi dapat memanfaatkan tandan yang biasa dibuang begitu saja. Target 2012 ini adalah 100ribu ekor sapi dapat diternak dan diharapkan dapat menutupi kebutuhan impor pada 2013.
            Pemaparan singkat beliau disambut applaus penonton yang terdengar riuh sekali. Banyak hal sebenarnya yang dapat dibangkitkan dari bangsa ini, hanya sikap optimistis dan positif thinking sambil bersama-sama bekerja lah bangsa ini dapat menjadi bangsa yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofuu, aamiin.

Foto-foto dokumentasi bisa dilihat di : 

Tuesday, March 27, 2012

Belajar Bersama adalah Penghematan Energi

"BELAJAR BERSAMA ADALAH PENGEHEMATAN ENERGI"

      Mari dukung pemerintah dalam upaya penghematan listrik lewat aktifitas BELAJAR BERSAMA di malam hari. Kenapa?

1. Pada saat beban puncak (umumnya pukul 17.00-22.00), listrik menanggung beban besar dalam suplai listrik ke masyarakat. Yang itu artinya ketika jumlah pemakaian sudah melebihi supply listrik yang diberikan kemungkinan akan menyebabkan pemadaman listrik. Dan biasanya range waktu tersebut adalah saat-saat para pelajar sedang belajar di kos (bagi yang ngekos). Kita asumsi setiap anak mengkonsumsi 25 watt untuk penerangan kos selama belajar (konsumsi ini belum termasuk kebutuhan listrik ekstra saat belajar, seperti radio, komputer, dll). Berarti untuk satu kelompok belajar yang terdiri dari 5 orang kita dapat menghemat 100 watt listrik. Jadi, belajar bersama hanya memerlukan 1 kamar kos dengan penerangan lampu 25 watt. 


2. Belajar bersama merupakan sebuah wadah informal bagi pelajar untuk bersosialisasi. Karena dalam forum ini tukar pikiran (sharing) akan berjalan, pun dengan diskusi-diskusi yang secara periodik dan bertahap akan membentuk insan-insan yang kompetitif.

Wednesday, March 7, 2012

Nabi Darurat dan Rosul Ad-Hoac (Ziqinium Review)

Acara diawali dengan monolog dari Muhammad Ainun N (Cak Nun), menjelaskan secara eksplisit, terkadang konotatif bahkan sesekali terdengar retoris mengenai tema besar dan latar mburi pegelaran Teater bertajuk  “Nabi Darurat dan Rasul Ad-hoac”. Sekitar sepuluh menit sang Penulis Naskah ini menyuguhkan monolognya dengan filosofis serta sangat analitis dan semuanya merupakan akomodasi dari cuilan-cuilan realita-realita yang menjadi jasad bagi kehidupan anak-anak Adam di Bumi Pertiwi, Indonesia Raya.

Cak Nun

Kisah ini dimulai ketika seorang anak desa bernama Joko Kamto yang juga dikenal sebagai Ruwat Sengkolo membuat kurungan di dalam rumahnya di desa. Ia tinggal bersama mbah Soimun, kakeknya. Akibat tingkahnya yang aneh itu yang terkadang sesekali menyabdakan diri, banyak warga berspekulasi bahwa Ruwat Gila, ingin bunuh diri, dukun tiban bahkan ada yang mengatakan bahwa ruwat adalah Nabi Darurat dan Rasul ad-hoac.

Lakon Kang Ruwat Sengkolo

Kegaduhan ini membuat Pak Jangkep, ayah Ruwat, yang sedang merantau di Jakarta harus pulang kampung. Begitu pula Alex Sarpin, seorang aktivis dan mahasiswa S2 yang pandai berteori dan ber’ensiklopedi’ ikut serta mengurusi keributan itu. Ditambah lagi obrolan dari anak-anak letto yang dikisahkan sedang indekos di sebelah rumah. Isu-isu mengenai kekerasan dan perilaku anak muda jaman sekarang juga menjadi bahan dagelan mereka.
Isu besar yang di angkat di awal adalah mengenai kiamat,
“....jangan percaya perhitungan para manusia-manusia yang mengaku ilmiah,..... kalau kiamat akan tejadi di 2060. Itu tidak mungkin, kiamat akan terjadi lebih cepat.....”,
sempalan suara lantang Ruwat sedikit menyinggung keangkuhan manusia yang sudah mulai terlihat ‘menuhankan’ ilmu pengetahuan, mengagungkan logika dan kekuatan pikiran yang membuatnya semakin terlihat takabbur. 
      Kericuhan mengenai kiamat itu tiba-tiba memunculkan gemuruh yang ternyata mengundang kehadiran Brah Abadon (Sabrang ‘Noe’ Letto), sosok implisit yang mengaku sebagai utusan Baginda Isrofil, tokoh malaikat yang diberi kuasa oleh Allah untuk menyuarakan kiamat dengan sengkolonya.
“...kamu terlalu berambisi untuk menjadi panitia kiamat...”,
suara Brah terdengar tenang dan introgatif, tetapi tidak menyurutkan gelak tawa di banch penonton.
         Malam semakin larut, penonton semakin duduk tidak beraturan, mencoba mencari posisi ternyaman untuk kembali melanjutkan adegan-adegan yang semakin lama semakin eksplosif. Sesekali Letto melantunkan tembangnya, bukan oleh suara merdu kang Sabrang ‘Noe’, tetapi suara emas  Dony Kiai Kanjeng. Mungkin inilah yang dibilang Noe sebagai konsep lagu, lagu-lagu Letto merupakan deskripsi dari cinta-cinta yang general. Yaitu cinta-cinta yang dapat dianalogikan dengan berbagai setting maupun lakon.  Bisa jadi, lagu yang dibawakan malam itu merupakan soundtrack dari dilematisme manusia-manusia akan hati, pikiran dan Tuhan mereka.

          Tingkah Ruwat semakin aneh, membuat ki Janggan turun tangan untuk menenangkan muridnya itu. Eksplorasi dan improvisasi Ruwat sudah sangat jauh, bahkan ki Janggan sebagai gurunya pun merasa tak pernah mengajarkan hal semacam yang sudah dilakukan oleh Ruwat. Ia seperti tak punya kuasa, hanya nasehat dan pitutur sebagai seorang guru lah yang bisa ia lakukan.
                Jargon-jargon seperti ganjil-ganjil, kekerasan dan edanisme juga menjadi topik pada malam itu.
“....hanya satu ganjil yang benar-benar genap...”,
manusia seperti sudah menjadi semakin aneh, sudah bertingkah tidak sesuai fitrahnya.
“...bahwa agama menghasilkan perilaku yang merusak...”,
agama banyak dijadikan sebagai toa dalam menggaungkan suara-suara kekerasan yang sebenarnya lebih didasari oleh egoisme dan sifat eksklusif suatu golongan.
“...hanya manusia yang bisa edan, karena Tuhan memberinya akal. Hanya makhluk yang berakal yang bisa edan...”,
ternyata penghuni bumi ini sudah mengalami gangguan akal, bukan gangguan jiwa. Karena jiwa tak salah apa-apa, ia hanya menurut apa kata juragannya.
                Warga diluar rumah semakin anarkis, di dalam rumah Ruwat semakin meng’gila’ dengan monolog-monolog panjangnya maupun obrolan-obrolannya dengan Brah Abadon.
“...jangan lakukan perubahan...”,
sebuah pesan yang menyuarakan akan pentingnya melakukan perubahan, sekarang dan sesegera mungkin.
“...hai semua makhluk langit, turunlah ke bumi. Jangan hanya manusia yang kau suruh mengurus bumi ini...”,
sepertinya merupakan pemberontakan diri yang muncul karena klimaks atas usahanya dalam memikirkan urusan-urusan bumi yang semakin ruwet. Mungkin karena hanya memikirkannya, just do it.
“...bukannya manusia adalah ahsani taqwim?...”, Brah terdengar datar
“...ya, tapi sekarang sudah menjadi asfala saafiliin ...”, jawab Ruwat dengan cepat.
                Pak Lurah Sangkan kemudian masuk, berniat mengajak Ruwat ke pihak berwajib agar dapat lebih aman karena ia sendiri sudah susah mengendalikan kebrutalan warganya. Pak Jangkep ternyata tidak terima dan menghalang-halangi keinginan Pak Lurah. Kemudian datang Pak Gaspol, seorang petugas kepolisian, membawa sebuah bedil laras panjang dan mempunyai niat yang sama dengan Pak Lurah, tetapi
“..treeet, treet...”, suara terompet Ruwat mengagetkan Pak Gaspol bahkan melimbungkannya. Pak Gaspol semakin menciut. Dialog pun muncul antara keduanya yang lebih menitik beratkan pada penegakan dan aplikasi hukum juga tentang probabilitas interaksi antara 270 juta manusia yang hanya dikendalikan oleh hanya sekitar 2ribuan undang-undang.
“...yang harus di tegakkan itu seharusnya adalah supremasi keadilan, bukan supremasi hukum. Karena hukum tidak dapat mencakup hati nurani, moral dan juga akal sehat...”
pernyataan yang semakin membuat Pak Gaspol garuk-garuk kepala. Entah berpangkat apa penegak hukum yang satu ini.
            “...bruk...”, tiba-tiba Ruwat merubuhkan sangkarnya. Mungkin Ruwat sudah sadar, ia mungkin sudah menemukan pencariannya yang selama ini ia renungkan di dalam sangkar. Bisa jadi karena dialog-dialog, diskusi-diskusi maupun interaksi-interaksi yang baru saja dilakukannya. Ruwat sudah salah besar dengan mengurung diri, banyak manusia diluar sana yang juga peduli pada bumi, bahkan banyak sekali kepolosan-kepolosan yang mampu meruntuhkan keangkuhan ‘sundul langit’, meratakan idealisme-idealisme dan bahasa-bahasa setinggi langit.
                Kisah diakhiri dengan petuah Mbah Soimun agar manusia tidak sombong dengan ilmunya (menunjuk Alex Sarpin), kekuasaannya (menunjuk Pak Lurah) ataupun dengan kekuatannya (menunjuk pak Gaspol). Karena sebenarnya manusia tak punya kuasa sedikitpun atas hal-hal itu.
                Senandung suara Noe bersama Lettonya mengakhiri acara malam itu, menyisakan sebuah raut kepuasaan dan introspeksi pada setiap diri penonton.

Foto-foto dapat di lihat di :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2698939284665.2103774.1592155838&type=1