Tuesday, December 25, 2012

Fantasi dalam Imaji


Tulisan ini dibuat awal tahun 2009 (last year senior high), seusai mencumbu rimbunan hutan Kalimantan.

Kumulai perjalanan itu dengan menengadah, memohon perlindungan dan kejelian atas keindahan alam yang akan di sajikan sebentar lagi. Sebuah perjalanan yang sangat biasa bagi orang di sana. Tapi teramat sangat istimewa bagi diri kolotku ini, sebuah perjalanan imajinasi. Pemunculan kembali sebuah naluri proporsional yang sangat signifikan bagi masa depanku. Naluri yang akan membawaku menjelajahi keindahan sains dan kesastraan sebuah karya ilmiah. Naluri ini adalah insting yang akan kembali menggugahku dalam menentukan sebuah pilihan secara matematis, logic dan akurat.
Kulangkahkan kaki, diiringi semilir ilalang yang tertiup angin pagi itu aku mulai membuka tameng-tameng yang telah mengeraskan pikiranku selama ini dengan hati yang memandang tajam setiap pepohonan yang bergerak kesana kemari. Menapaki langkah demi langkah jalan setapak yang mulai tampak rimbun, lebih rimbun dibanding saat pertama kali aku melewatinya dulu (2 tahun lalu). Dulu, tujuanku kesini adalah mengembangkan pemikiran ku yang masih hijau, membentuk pola pikir yang obyektif. Tapi semua itu perlahan telah pupus. Makanya, aku mulai mengumpulkan kembali ceceran-ceceran yang telah terberai itu. Sayatan rumput duri, goresan batu kali tak terasa sedikitpun, seluruh tubuhku seolah hanya ada pada pandanganku yang sekarang sedang melihat takjub pada originalitas ciptaan sang Maha…,
Wanginya alam ini takkan pernah kalian temukan di kotamu, alunan music alam ini takkan pernah kalian temukan di panggung manapun. Fantastic…
Saat kalian mendengar percikan air di ujung sana. Akan kalian ketahui bahwa di sanalah kumpulan air tengah terjun bebas menghempas sesamanya, menyusuri jalan sepanjang muara laut yang berkelok-kelok.
Ketika kau mencoba untuk menghalanginya, penatmu akan terikut, kesombonganmu akan mengkerut dan ketakutanmu akan teringsut entah kemana.
Disitulah semuanya seolah akan terasa kembali pada hakikatnya.
-0- 
Saat kalian mulai berfantasi dalam imajinasi, nikmatilah kegemerlapan celah sempit di alam ini. Saat kalian bingung cara berfantasi dalam imajinasi, mulailah dari alam. “Kenapa benda bisa jatuh?”, karena seperti itulah Newton memulai. “kenapa burung bisa terbang?”, Karena seperti itulah Wright bersaudara mulai berkarya. Sesungguhnya alam ini mengandung banyak peluang, yang akan dapat kalian temukan dengan mulai berfantasi dalam imajinasi. 
-0-
Segmentasi yang terjadi pada setiap hidup manusia memang seperti ini. Fluktuasi seolah wajib terjadi untuk memperoleh kelinieran. Nah, kelinieran itulah yang sekarang menghantuiku, menakutiku dengan keghaibannya. Kelinieran itu memang tak serumit persamaannya. Tapi ketidakmatematisannya itulah yang membuatnya tak tertelusur.
-0- 

Wednesday, December 12, 2012

Pendakian Spirit Mutualis

Pendakian kali ini memang sedikit berbeda. Ya, pendakian yang tidak banyak berbeda inilah yang membuatnya sedikit berbeda. Hmm
            Matahari sudah menyingsing cukup terik, menampar bulir-bulir embun untuk segera beranjak. Sesekali siluet-siluet rumah serasa menggoyang badan, aku memang sudah terjaga, tapi fokusku sedang tidak sempurna. Logistik memang sudah tersiapkan, peralatan pribadi yang sudah jadi kewajiban tak perlu lagi ditanyakan. Entah kenapa, kali ini aku ingin termenung, mencermati lelaku semut berebut jemur, mendermakan dengar untuk sekedar merasakan air yang terpental dan lagi, kulantunkan suara senyap yang terdengar merdu. Merduku itu tentang diamku, merduku itu tentang suara-suara riuh di sekitarku. Tiba-tiba, sontak aku merasa terkaget,

“hai kawan, apalagi yang kau risaukan? Berangkatlah sana, cari pencarianmu!. Kau terlalu banyak merenung”, sang semut memang terasa cukup mengagetkanku

“sudah, cukuplah kau merenung!, benar kata dia. Pantas saja kau tak pernah punya pacar selama ini”, si air tanpa dinyana ternyata ikut juga.

“........”, diamku semakin merdu.

            Aku bersiap berangkat, sudah jam 11, cukup membuat mas Zaeni terlihat berang. Pantaslah ia bersikap seperti itu, perjanjian yang kami buat dengan saling mengiya kemarin itu tercantum pukul 8 pagi.  Atau, mungkin saja karena kemarin kami lupa berinsyaAlloh, beginilah jadinya. Tapi biarlah, bukankah Alloh yang punya skenario, cukup kami menjalankannya saja. Mungkin sesekali ada prasangka, kekhawatiran bahwa “ah, rencana kami meleset”, sesungguhnya itu semua sengaja dipelesetkan oleh-Nya. Sebagai aktor yang baik, sudah seharusnya manusia pandai berimprovisasi, “alhamdulillah meleset”, sehingga diharapkan yang muncul adalah syukur tiada henti, syukur yang sustain, syukur yang melesat.
            Motor kali ini melesat cukup lambat, bukan karena tidak ingin cepat, tetapi karena tidak ada hasrat untuk melaju cukup cepat. Toh, siang itu langit terlihat cukup teduh, jadi sholat dan makan siang dipinggir jalan agaknya menjadi pilihan tepat. Itu artinya kami menjadi musafir, secara emosional aku sangat suka kata itu, musafir. Sebuah sebutan yang identik dengan perjalanan, yang dirunutkan sebagai aktifitas diperjalankan. Aku menangkap aura bergerak terus, tiada berhenti, bukankah kasih ibu sepanjang jalan. Dari situ -diperjalankan- lah kemudian bermunculan cerita dipertemukan, diperlihatkan, diperdengarkan, dan lain sebagainya. Ini terasa seperti dunia/hidup penuh kejutan.
            Ungaran, itulah gunung tujuan kami. Gunung menjadi pilihan karena kami merasa gunung adalah pribadi yang membumi, menancapkan pancangnya hingga begitu membumi. Bukan berarti ada yang salah dengan langit, justru ini tentang keterbatasan-keterbatasan yang menyebabkan kita menjadi sangat melangit, memandang langit menjadi tampak begitu indah, menikmati sapuan awan yang terkesan abstrak tapi sangat eksentrik bahkan cukup artistik. Hari sudah sore memang, ketika kami sampai di basecamp, sehingga cukup untuk menyempatkan sholat di masjid kampung. Ini juga yang menyebabkan kami lebih memilih jalan belakang, bukan jalur konvensional, yaitu jalur gedong songo. Jalurnya tidak begitu belukar, diawal malah cenderung didominasi perkebunan, kebanyakan sayuran memang.
            Langit menjadi cukup gelap ketika kami malah dihadapkan pada jalur yang sedikit belukar. Sehingga kami memilih menelikung melewati jalur-jalur terasiring, seperti teras-teras kecil. Tempat inilah yang kemudian menghentikan kami selain karena hari yang semakin gelap. Segera kami dirikan tenda diteras teratas itu dengan sedikit bergegas. Tiba-tiba karenaNya, angin berhembus dan ternyata menyingkap kabut. Agaknya gelap masih menyisakan sedikit terang, senja kala itu menghadirkan sosok sumbing dan sekelumit tubuh merapi-merbabu, ditambah kemilau rawa pening. Hingga gelap memang karena malam, keindahan milikNya itu masih saja ada. Malam itu, aku merasa dihati masing-masing kami saling berucap “alhamdulillah, meleset”.
-0-
            Pagi yang cukup cerah, menghadirkan sunrise di serat-serat rerumputan. Jadi tak perlu lagi aku mendongak, karena kemilau mentari sedang terinjak dibawahku. Pagi itu kami tidak terlalu bergegas, biarkan Dia yang menggerakkan. Sesekali kami lantunkan ayat-ayat Al-qur’an, menghadirkan ruh bagi jasad-jasad semesta yang sedang terhampar.
“terimakasih telah membantuku menghidupkanmu”, ucap sebuah pohon diseberang tenda yang terhembus angin pagi.
Ya, hakikatnya memang aku yang dihidupkan, merangsang elemen-elemen jasadiyah diri agar menghidupkan ruhiyah yang semakin mendekati mati.
            Bismillah, kami akan memulai pendakian kembali. Sebotol jagung sudah disiapkan sebagai tasbih. Kami sadar betul, dzikir kami hanyalah dzikir masyarakat iman menengah kebawah, dzikir-dzikir yang mungkin hanya terucap. Dan kami sadar betul bahwa alam semesta ini berdzikir tiada henti padaNya dengan sangat tulus dan tunduk. Maka kami harap setiap biji yang terlempar karenaNya menjadi termakan oleh burung yang sudah teruji taatnya pada pemiliknya, terlumat oleh mikroba-mikroba yang selalu amanah pada tugas dariNya sehingga menghadirkan pupuk-pupuk bagi tumbuhan yang selalu berdzikir, terpakai oleh semut-semut untuk berpesta dengan senantiasa menyebut namaNya.
            Tasbih kami masih tersisa, pendakian tidak kami teruskan hingga puncak. Karena puncak itulah akhirnya kami memutuskan untuk turun, menghabiskan sisa jagung/tasbih ditengah guyuran hujan.

“hai kawan, katanya kamu sedang tak punya pacar?. Tak usah risau, teruslah berdzikir!” seru segerombolan semut yang tengah membopong tasbih

“......” merduku semakin bersuara.
-0-

Sunday, December 9, 2012

Antara Nyata dan Ternyata (Maemunah 2)


Nyata, karena ku harap ia nyata, karena ia memang begitu nyata dalam imaji rasa. Ia kubentuk supaya jadi nyata, recehan kata ini saja sengaja tercipta supaya merangkum tunainya. Tapi biar Allah yang meruhkannya, menyatakannya untuk hambaNya ini. Atau pun

Ternyata, ia tak menjadikanku Maemunah yang ini, tetapi yang itu. Itu yang tak pernah kuduga, itu yang bahkan membuatku sendiri ternganga. Tidak semata karena dilebihkan, atau bahkan dikurangkan, karena itu lebih dari sekedar kejutan.

Thursday, November 8, 2012

Eksotisme Matalurgi Al-Qur’an

“Berilah aku potongan-potongan besi!, Hingga kedua (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulkarnain) berkata, “Tiuplah (api itu)!” ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “berilah aku tembaga (yang mendidih) agar ku tuangkan ke atasnya (besi panas itu)” (QS. Al-Kahf (18) : 96)

           Atom-atom besi mulai menyiapkan barisan, membuka tangan-tangannya. Pasukan ini sadar akan kedatangan tamu agung sekaligus sahabat baiknya. Gerombolan tembaga datang, perawakannya memang terlihat lebih berisi.
Sekali lagi Al-Qur’an kembali menghantarkan kita pada sebuah fenomena sains, sebagaimana Al-Qur’an telah menghantarkan umat muslim melalui kompleksitas dan juga pluralitas kehidupan dunia dalam menggapai ridho-Nya. Sains, social, filsafat, ekonomi, militer, dan banyak bidang lainnya telah difasilitasi oleh Al-Qur’an, maka tidak salah kita sebut Al-Qur’an sebagai kitab multidisipliner.
Sebuah teknik metalurgi telah diperkenalkan Al-qur’an. Menuangkan tembaga panas di atas besi panas untuk membentuk sebuah campuran kuat yang bahkan disebutkan tidak bisa dilubangi (QS 18 :97). Sebuah pertanyaan kemudian muncul, “kenapa tembaga dituang di atas besi, bukan sebaliknya”. Inilah Al-Qur’an, ia menggapit pikiran-pikiran para pecinta sains, melibatkannya dalam multidimensionalisme objek.
Yang kemudian tebesit secara sederhana adalah densitas dari kedua logam tersebut. Besi memiliki densitas 6.98 gr/cm3 (pada titik leburnya), sedangkan tembaga berdensitas 8,02 gr/cm3 (pada titik leburnya). Kalau dianalogikan dengan minyak dan air dimana ketika minyak (densitas : 0.8-0.9 gr/cm3) dituang diatas air (densitas : 1 gr/cm3) maka minyak hanya akan berada diatas air. Tidak ada upaya menerobos sela air. Tetapi ketika dilakukan sebaliknya, air yang dituang di atas minyak, maka air akan menerobos, melewati bagian atas hingga bawah minyak, meskipun tidak terjadi pencampuran (factor kepolaran kedua zat). Tetapi ada upaya air menerobos sela minyak disepanjang bagian.
Menjawab pertanyaan diatas, jika besi di tuang ke atas tembaga, maka besar kemungkinan besi hanya akan bercampur dengan sedikit dari bagian atas tembaga. Tetapi jika sebaliknya, tembaga yang dituang ke atas besi akan menerobos ke seluruh bagian besi sehingga dicapai sebuah homogensi pada campuran tersebut. Homogensi itulah yang kemudian meningkatkan kekuatan dari aliansi kedua logam tersebut.
            Akhirnya mereka bersuka cita, membaur, saling merengkuh ikatan.
Syaikh Jauhari Thantawi mengatakan dalam tafsirnya, Al-Jawahir, bahwa terdapat 750 ayat kauniah, ayat-ayat tentang alam semesta, dan hanya sekitar 150 ayat fiqih. Ini menjadi ladang luas bagi para pecinta ilmu alam untuk kembali menggali, memikirkan, memberdayakan oleh pikirnya untuk mengungkap bahwa Al-Qur’an menyimpan semua fenomena jagad raya yang insyaAlloh akan semakin menyimpul kuat iman kita padaNya, Sang Maha Penguasa Jagad Raya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri, duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Al-Imran (3) : 190-191)


             

Friday, October 26, 2012

Maemunah (1)



Duhai rasa, yang kerap menolak Maemunahku, yang sering tak mengijinkanku sekedar mengkhayal dia.  Aku ingin kamu mengelabu, sejenak saja. Aku ingin kamu berdusta, kali ini saja.


Katakanlah!,

tentang gelisahku yang semakin menyana, tentang harapku yang semakin menganga.
Kamu tahu, bahwa takbir-takbir itu telah menguliti selaput-selaput nurani, bahwa malam ini sungguh aku tak boleh menggelisahkan apa-apa lagi.

Tuesday, October 2, 2012

Ibarat Bintang



Duhai bintang, kenapa dirimu begitu dielukan. Padahal ada begitu banyak serupamu. Pengibaratan atasmu bukankah menjadikan'nya' biasa.

Baiklah bintang, akan ku beritahu lelaki itu.

Hai para lelaki, ajaklah pengibaratan atas wanitamu menjauhi bintang. Sungguh ibarat terbaiknya adalah dirinya sendiri. Karena ia tak ada serupa.



Sunday, September 30, 2012

Pertanda Bahasa



            Biarkan pada koma menjeda kata, rentetan ucapan menjadi paham. Ia menjegal huruf-huruf yang gegabah, agar dirimu menjadi Maemunah saja. Bukan itu atau apa-apa yang lain.


[bagian rumit dari pertanda bahasa]