Tuesday, December 23, 2014

Bapak-bapak Black Pearl


Bapak itu duduk terpekur disebuah emperan toko, memandangi kendaraan yang menyapu angin. Kakinya berselonjor, seperti ia tak ingin ada tikungan tajam pada jalan-jalan darahnya. Rambutnya keriting kumal, seperti ombak yang dibangun angin dari sembarang mata angin. Kumisnya seperti juntaian akar-akar beringin sepuh: tebal, panjang. Dari wajahnya tampak ia lupa bahwa ia tidak sedang di gurun sahara, berdebu, tak tersentuh air-kecuali keringatnya. 

“mas, stasiun arahnya kemana ya?”, tanyanya padaku yang sedang akan lepas dari parkiran.
“hmmm”, aku pun bingung menjelaskan, arahnya terlalu banyak menghabiskan kanan-kiri, berkelok-kelok jauh memang.
”mari, bapak ikut saya saja”, biar dia tau mengantarnya lebih mudah daripada harus menjelaskan. Begitu pikirku.

Bapak yang kalem dan sopan itu adalah warga Padalarang, ia banyak menghabiskan hidupnya di Jakarta, menjadi bagian dari padat dan sibuknya lalu lintas ibu kota.

”tiap habis kerja atau akhir pekan saya biasanya ke Sunda Kelapa mas”, katanya. Kupikir sekedar untuk melepas penat dan menepi dari asap kendaraan.
”sejak SMA saya terobsesi sama laut”. Aku baru tahu, obsesi belasan tahun tak lekang juga ternyata.

Bisa ditebak obsesinya menjadi apa kan?, tentu bukan turis pantai.

Ya, pelaut. Di Sunda Kelapa itu pula dia banyak bergaul dengan orang-orang laut. Dari mereka pula dia sedikit banyak tau tentang ilmu laut dan menjadi pelaut.

“saya keluar dari astra dan pergi melaut mas”, pekerjaan sebagai teknisi di perusahaan itu dia tinggalkan. Kapal Bugis (tentu bersama orang-orang bugis yang terkenal pandai melaut) menjadi tempatnya berlabuh, mengarungi laut lepas.
Beberapa tahun ia habiskan dilaut, memakai perlahan baju obsesinya itu.
Wajahnya kini seperti diguyur samudra, dari balik kumis akar beringin itu seperti tersungging kilau emas. Mirip awak-awak Black Pearl ketika menemukan harta karun. Aku hanya tersenyum, seperti Jack Sparrow yang licik dan licin itu.

“kami tertangkap di Probolinggo mas”, ia ternyata awak kapal angkutan kayu ilegal. Cerianya masih tak pudar. Selain angin sepoi dan terumbu karang yang indah ternyata laut juga menyimpan petualangan, tampak sepoi dan indah pula sepertinya.
 
Setelah berhari-hari ditelantarkan petugas, akhirnya mereka, para abk itu, balik kanan tanpa jatah kayu ataupun solar untuk sangu. Menumpang dari truk satu ke truk yang lain dan tentu satu-satunya motor (reotku)-hanya beberapa kilometer pula.

Akhirnya kami pun berpisah, bukan di stasiun seperti di film-film romantis itu. Kami berpisah di perlintasan kereta api, di bawah sebuah jembatan layang.
“saya naik dari sini saja mas. Sudah ndak ada ongkos”.
Aku menyesal, kenapa dia bertemu diriku, kenapa bukan orang-orang yang bisa mencukupi ongkosnya pulang. Maaf ya pak.

“salam untuk keluarga di rumah ya pak”, sambil do’akanlah aku agar segera punya obsesi.  


Monday, December 22, 2014

Batal Mudik


Baik, rasakanlah api dalam dirimu. Lalu perhatikan dengan lubukmu, akan keluar sesosok ksatria yang gagah berani dari dalam dirimu. 
"Ah, sudahlah aku pergi saja". Dengarkan, ujarannya terlihat kesal bukan?.
"Aku tak cocok dengan iklim api yang ini". Seksamakan gerutuannya, tak ubahnya kiasan rindu kampung halaman.
"Bagaimana aku bisa tenang, bahan bakar apimu sudah tak seperti dulu". Lihat, gerutunya sudah mulai ilmiah. 

Musim ini, ramadhan ini, negeri api sedang bergairah, masyarakatnya bersuka cita, para perantaunya yang melalang buana di beberapa detik cahaya telah pulang menemui sanak saudaranya. Kecuali, 'mereka-mereka' yang telah hidup tentram di suaka-suaka hati manusia.

"maafkan aku ksatria, nampaknya aku tak cukup mampu memulangkanmu musim ini", ujarku.