Wednesday, December 12, 2012

Pendakian Spirit Mutualis

Pendakian kali ini memang sedikit berbeda. Ya, pendakian yang tidak banyak berbeda inilah yang membuatnya sedikit berbeda. Hmm
            Matahari sudah menyingsing cukup terik, menampar bulir-bulir embun untuk segera beranjak. Sesekali siluet-siluet rumah serasa menggoyang badan, aku memang sudah terjaga, tapi fokusku sedang tidak sempurna. Logistik memang sudah tersiapkan, peralatan pribadi yang sudah jadi kewajiban tak perlu lagi ditanyakan. Entah kenapa, kali ini aku ingin termenung, mencermati lelaku semut berebut jemur, mendermakan dengar untuk sekedar merasakan air yang terpental dan lagi, kulantunkan suara senyap yang terdengar merdu. Merduku itu tentang diamku, merduku itu tentang suara-suara riuh di sekitarku. Tiba-tiba, sontak aku merasa terkaget,

“hai kawan, apalagi yang kau risaukan? Berangkatlah sana, cari pencarianmu!. Kau terlalu banyak merenung”, sang semut memang terasa cukup mengagetkanku

“sudah, cukuplah kau merenung!, benar kata dia. Pantas saja kau tak pernah punya pacar selama ini”, si air tanpa dinyana ternyata ikut juga.

“........”, diamku semakin merdu.

            Aku bersiap berangkat, sudah jam 11, cukup membuat mas Zaeni terlihat berang. Pantaslah ia bersikap seperti itu, perjanjian yang kami buat dengan saling mengiya kemarin itu tercantum pukul 8 pagi.  Atau, mungkin saja karena kemarin kami lupa berinsyaAlloh, beginilah jadinya. Tapi biarlah, bukankah Alloh yang punya skenario, cukup kami menjalankannya saja. Mungkin sesekali ada prasangka, kekhawatiran bahwa “ah, rencana kami meleset”, sesungguhnya itu semua sengaja dipelesetkan oleh-Nya. Sebagai aktor yang baik, sudah seharusnya manusia pandai berimprovisasi, “alhamdulillah meleset”, sehingga diharapkan yang muncul adalah syukur tiada henti, syukur yang sustain, syukur yang melesat.
            Motor kali ini melesat cukup lambat, bukan karena tidak ingin cepat, tetapi karena tidak ada hasrat untuk melaju cukup cepat. Toh, siang itu langit terlihat cukup teduh, jadi sholat dan makan siang dipinggir jalan agaknya menjadi pilihan tepat. Itu artinya kami menjadi musafir, secara emosional aku sangat suka kata itu, musafir. Sebuah sebutan yang identik dengan perjalanan, yang dirunutkan sebagai aktifitas diperjalankan. Aku menangkap aura bergerak terus, tiada berhenti, bukankah kasih ibu sepanjang jalan. Dari situ -diperjalankan- lah kemudian bermunculan cerita dipertemukan, diperlihatkan, diperdengarkan, dan lain sebagainya. Ini terasa seperti dunia/hidup penuh kejutan.
            Ungaran, itulah gunung tujuan kami. Gunung menjadi pilihan karena kami merasa gunung adalah pribadi yang membumi, menancapkan pancangnya hingga begitu membumi. Bukan berarti ada yang salah dengan langit, justru ini tentang keterbatasan-keterbatasan yang menyebabkan kita menjadi sangat melangit, memandang langit menjadi tampak begitu indah, menikmati sapuan awan yang terkesan abstrak tapi sangat eksentrik bahkan cukup artistik. Hari sudah sore memang, ketika kami sampai di basecamp, sehingga cukup untuk menyempatkan sholat di masjid kampung. Ini juga yang menyebabkan kami lebih memilih jalan belakang, bukan jalur konvensional, yaitu jalur gedong songo. Jalurnya tidak begitu belukar, diawal malah cenderung didominasi perkebunan, kebanyakan sayuran memang.
            Langit menjadi cukup gelap ketika kami malah dihadapkan pada jalur yang sedikit belukar. Sehingga kami memilih menelikung melewati jalur-jalur terasiring, seperti teras-teras kecil. Tempat inilah yang kemudian menghentikan kami selain karena hari yang semakin gelap. Segera kami dirikan tenda diteras teratas itu dengan sedikit bergegas. Tiba-tiba karenaNya, angin berhembus dan ternyata menyingkap kabut. Agaknya gelap masih menyisakan sedikit terang, senja kala itu menghadirkan sosok sumbing dan sekelumit tubuh merapi-merbabu, ditambah kemilau rawa pening. Hingga gelap memang karena malam, keindahan milikNya itu masih saja ada. Malam itu, aku merasa dihati masing-masing kami saling berucap “alhamdulillah, meleset”.
-0-
            Pagi yang cukup cerah, menghadirkan sunrise di serat-serat rerumputan. Jadi tak perlu lagi aku mendongak, karena kemilau mentari sedang terinjak dibawahku. Pagi itu kami tidak terlalu bergegas, biarkan Dia yang menggerakkan. Sesekali kami lantunkan ayat-ayat Al-qur’an, menghadirkan ruh bagi jasad-jasad semesta yang sedang terhampar.
“terimakasih telah membantuku menghidupkanmu”, ucap sebuah pohon diseberang tenda yang terhembus angin pagi.
Ya, hakikatnya memang aku yang dihidupkan, merangsang elemen-elemen jasadiyah diri agar menghidupkan ruhiyah yang semakin mendekati mati.
            Bismillah, kami akan memulai pendakian kembali. Sebotol jagung sudah disiapkan sebagai tasbih. Kami sadar betul, dzikir kami hanyalah dzikir masyarakat iman menengah kebawah, dzikir-dzikir yang mungkin hanya terucap. Dan kami sadar betul bahwa alam semesta ini berdzikir tiada henti padaNya dengan sangat tulus dan tunduk. Maka kami harap setiap biji yang terlempar karenaNya menjadi termakan oleh burung yang sudah teruji taatnya pada pemiliknya, terlumat oleh mikroba-mikroba yang selalu amanah pada tugas dariNya sehingga menghadirkan pupuk-pupuk bagi tumbuhan yang selalu berdzikir, terpakai oleh semut-semut untuk berpesta dengan senantiasa menyebut namaNya.
            Tasbih kami masih tersisa, pendakian tidak kami teruskan hingga puncak. Karena puncak itulah akhirnya kami memutuskan untuk turun, menghabiskan sisa jagung/tasbih ditengah guyuran hujan.

“hai kawan, katanya kamu sedang tak punya pacar?. Tak usah risau, teruslah berdzikir!” seru segerombolan semut yang tengah membopong tasbih

“......” merduku semakin bersuara.
-0-

5 comments:

Zeal*Liyanfury said...

subhanalloh, indah nian perjalanan merentas belukar dan mendaki puncak keimanan ini. ^_^
senang di sini tersedia untaian kalimat yang mengikat makna dan membuat dahi berkerut sedikit lama.

Anonymous said...

damai bgt keknya, ibadah di alam terbuka, dpuncak pulaa..brasaa dekat ma yang Maha Kuasa :)

nice story ^_^

Ziqin said...

Semoga kerutnya semakin permanen

Ziqin said...

Alhamdulillah tidak sampai puncak. Semoga tidak hanya tentang 'berasa', tapi 'ternyata'.

Catatan Harian Irfan said...

Merasakannya di alam terbuka, shalat, mengaji sepertinya akan membuat pikiran menjadi jernih kembali :)