Sunday, March 9, 2014

Benuaq




         
Siang itu awan terlihat sedikit gelap, pohon-pohon tampak bergoyang senang mengikuti alunan angin, serakan daun-daun pun seperti ikut-ikutan, kupandangi mereka begitu lekat.

“kamu terlihat begitu gembira, ada apa gerangan?”, tanyaku

“Kami baru saja jatuh dari pohon beberapa waktu yang lalu, dan bukankah pada momen itu Tuhan tak pernah luput dari pandangan pada kami. Maka, bagaimana kami tak gembira?”, seru salah satu daun.

“ bukankah Tuhan bahkan tak pernah luput pandangan atas makhlukNya, kapan dan dimanapun?. Jadi kupikir itu biasa saja”, jawabku ketus.

Lantas, daun-daun itu pun mulai meletak, tergeletak, tak bersemangat. Seperti ada kesedihan pada mereka.

“Betul kata dia, tak ada waktunya bersuka ria, tasbih kita masih terlalu sedikit”, sahut daun yang lain.

Aku terdiam, apa kabar tasbihku, mungkin masih hitungan jari. Mereka, makhluk yang senantiasa bertasbih itu merasa belum apa-apa. Maka, sesungguhnya aku lah yang terjatuh, tersungkur, terluka oleh kesedihan-kesedihan.

 Beberapa penumpang sudah mulai bersiap masuk, pak supir yang juga merangkap kondektur itu terlihat sibuk menyobek karcis. Aku duduk paling belakang, bersama beberapa lelaki kekar. Mesin sudah dinyalakan, bis mulai membuat kami bergoyang, itu tandanya bismillah harus sudah terucap.

-0-

‘Terminal Lempake, Samarinda’. Tak ada yang istimewa disini, seperti kebanyakan terminal, yang terlihat hanya lalu lalang para musafir. Sampai ketika aku melihat ganjal kayu disela-sela impitan ban bis.

“Istimewa”, bathinku. Kupikir istimewa itu tentang cara pandang, tentang arsiran tersendiri yang kita buat padanya. Istimewa hanyalah frase untuk mengistilahkan kemewahan. Maka, jangan tanyakan kenapa itu istimewa, karena sesungguhnya selera mewahku cukup rendah.

-0-

Simon, begitulah namanya. Ia adalah ketua Gramina, sebuah organisasi masyarakat yang bervisi pada perjuangan hak asasi manusia. Ayahnya dari NTT, yang kemudian menikah dengan seorang perempuan Dayak Benuaq. Aku dijemput olehnya menuju kampung Benanga, sebuah kampung yang memang banyak dihuni masyarakat Dayak Benuaq. Disana, ia mengasuh sebuah sanggar kesenian, mendidik anak-anak Dayak Benuaq untuk turut serta melestarikan kebudayaan mereka.

Modernisasi memang tak bisa dihindari, tetapi sebagai implikasinya, begitu banyak tradisi dan kebudayaan masyarakat yang  tergerus. Anak-anak sudah banyak yang tak mengenal kearifan lokal. Kearifan lokal adalah hasil ukiran kebuadayaan masyarakat yang terbentuk dalam kurun waktu yang sangat lama, didalamnya terdapat nilai-nilai filosofis kehidupan, dan tentu, sebuah cara berkehidupan yang jauh dari pragmatisme.


“Anak-anak sudah banyak yang tidak bisa berbahasa Dayak mas”, begitu keluhnya berkali-kali.

Malam itu, kami semua berkumpul, anak-anak serta orang tuanya juga beberapa tetua ikut dalam sebuah lingkaran. Kami membicarakan banyak hal, tentang keinginan mereka yang kuat bahwa Dayak Benuaq harus maju, mereka mengatakan diantara saudara Dayak yang lain, Benuaq lah yang masih belum maju. Tetapi secara kebudayaan dan kesenian, Dayak Benuaq lah yang paling kaya. Maka, visi mereka adalah ingin agar secara kehidupan, Dayak Benuaq bisa maju. Begitu pula kesenian dan tradisi, mereka berharap agar bisa tetap lestari. Banyak cerita rakyat yang disampaikan, tentang perang antar suku beberapa abad lalu, tentang kekeringan 7 tahun, tentang perjuangan untuk Indonesia Merdeka. Kebanyakan cerita mereka masih disertai bukti-bukti yang banyak tersimpan dibelantara hutan kalimantan.

Makanan tiba,

“mas, silakan pimpin do’a”, kak Simon mempersilakan.

“Tuhan, Engkaulah pencipta manusia Dayak, manusia Jawa, manusia Eropa. Engkau pula lah pencipta pemeluk-pemeluk Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, dan juga Islam. Engkau juga lah pencipta nenek-nenek moyang kami semua, juga roh-roh serta makhluk-makhluk ghaib yang bertebaran di jagad semesta ini. Terima kasih telah memberi kami kehidupan selayaknya makhluk”, bathinku ketika merapal do’a.  

Kebetulan dikampung sedang berlangsung acara adat kematian. Acara pengangkatan tulang –tulang orang yang sudah meninggal, hampir sama seperti di Toraja. Selama acara sekitar dua bulan itu, tulang-tulang itu diletakkan di dalam Kwangkai. Sebuah kotak rumah-rumahan yang ditutupi kain-kain. Malam hari biasanya orang-orang melakukan tari Ngerangkau, mengitari Kwangkai. Selama acara berlangsung Lamin, sebutan untuk rumah Dayak, tak pernah sepi dari aktifitas. Maka, pagi itu aku diajak kesana, bertemu ibu-ibu yang sibuk menyiapkan masakan dan juga sesajen. Dan tak lupa tetua-tetua yang sedang duduk melingkar di tengah lamin. Mereka bercerita tentang hukum-hukum adat istiadat dayak, tentang reinkarnasi. Disana, hadir tetua yang khusus mengurus kematian,  dan juga tetua yang mengurus hukum-hukum adat.
Suku Dayak Benuaq memang banyak tersebar di wilayah Kutai Barat, maka mereka sering kali menyebutnya sebagai hulu. Hulu dari adat dan kebudayaan benuaq mungkin.

Atau mungkin hulu itu adalah tempat mereka hendak kembali ketika hilir-hilir kebudayaan dan kearifan lokal mereka sudah semakin menjadi kering.      

-----0------


No comments: