Thursday, July 31, 2014

Lailah, ladalah….



Dari semalam, suara takbir tak pernah sepi dari telinga Lungsur. Handphonenya yang bernada dering ‘Takbir’ itu tak berhenti berbunyi, berbagai macam ucapan selamat hari raya idul fitri memenuhi inboxnya.

Allohuakbar…Allohu akbar….Allohu akbar….la ilah……..”, satu pesan masuk.

Allohuakbar…Allohu akbar….Allohu akbar….la ilah……..”, belum selesai bunyi sms pertama, pesan kedua menyerobotkan bunyi semula.
            
Dampit yang sedang berhalal-bihalal ke rumahnya menjadi gusar.

“Sur, kamu jadi atheis ya sekarang?”

“kok gitu prop?”

“lha itu, nada smsmu. La ilah…la ilah…ndak ada tuhan…ndak ada tuhan….”

“iya prop, dari semalam banyak sms masuk, semuanya mengucapkan selamat hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir bathin katanya”

“Nah, kamu sendiri ndak ngirim sms begituan juga sur”

“Aku baru ngirim begituan ke Tuhan aja prop, yang lain malah belum sempat”

“Wah iya, kelalen (terlupa) aku Sur sama Tuhan”

“Nah lho, kok jadinya sampean yang la ilah prop”

            Keduanya terdiam, lalu diam-diam tertawa.

“Sampean sudah kirim smsnya kemana aja prop?”

“Cuma ke Paijo si penganut dharmo gandul, Joseph saudara kristenku, Agus kawan budhaku, sama Mona teman diskusiku yang atheis itu”

“Walah, mereka kan non muslim prop. Ndak takut haram prop?”

“Aku cari-cari belum nemu fatwa MUInya Sur. Yang dibahas tiap tahun malah pengharaman mengucapkan selamat natal oleh umat muslim. Lha aku kan mengucapkan selamat idul fitri ke non muslim. Lagi pula, aku malah senang kalau ada orang non muslim ikut serta merayakan Idul Fitri, tambah rame to”

“Betul prop, semoga semuanya kembali fitri”

“Semuanya siapa sur?”

“Ya semuanya prop……”

“ladalah…”

 

No comments: