Monday, February 26, 2018

ANGEL AND DEMON (Seri Phlogiston 3)


Perseteruan angel dan demon memang sering diceritakan tak ada habisnya. Dan penyebab utamanya satu, manusia. Begitu juga dengan phlogiston, perseteruannya dengan Lavoisierians seolah tak segera berakhir. Juga karena manusia. Pembakaran(combustion) dan cara pandang dalam menafsirkannya adalah awal mulanya. Sekaligus awal bagi lahirnya Chemical Revolution.

Seperti halnya avatar, pandangan kimia sebelumnya adalah tentang bagaimana memahami interaksi 4 elemen : api, air, udara, tanah.
Segala sesuatu yg terjadi di alam adalah produk interaksi elemen-elemen itu. Sampai muncul lah oksigen, yg pada akhirnya merubah kesuluruh cara pandang kimia, cara pandang tentang elemen.
Tapi, gagasan tentang oksigen pada proses pembakaran nyatanya masih menyisakan keganjalan, khususnya bagi James Hutton.

Berkaitan dengan apa yg disebut sebagai energy. Dalam hal ini direpresentasikan oleh heat dan light. Ambil contoh, katanya, cahaya : bagaimana dia bisa menghasilkan inflamasi, bagaimana dia bisa disimpan dalam phosporetic bodies, bagaimana terkadang dia membawa panas, bagaimana dia bisa menghasilkan perbedaan warna, bagaimana dia bisa diubah oleh tumbuhan menjadi animal fuel, bagaimana dia bisa menjaga keberlangsungan planet.

Era sekarang, cahaya bisa kita pelajari lewat photon. Panas?, agak membingungkan. Tapi, sebelum era ini, Gough sudah berkeyakinan bahwa phlogiston adalah partikel api, flame, light and heat, yg dihasilkan dari pembakaran. Secara spesifik, Stahl bahkan menyatakan phlogiston adalah materi panas, partikel panas.

Meskipun demikian, Hutton lalu beranggapan bahwa phlogiston adalah salah satu bentuk dari fixed light atau ia sebut sebagai "solar substance". Ia, lalu memasuki pemahaman tentang phlogiston melalui cahaya.
Cahaya dan phlogiston adalah identik. Ia punya perilaku yg sama, ia adalah kesatuan. Ritcher mengatakan, "dimana ada cahaya, disana juga pasti ada phlogiston".

Bahwa seperti halnya photon dan phlogiston. Angel and demon adalah kesatuan, mereka punya perilaku yg sama, punya visi yg sama : mematangkan iman manusia.
Bahwa hikmah, bisa lahir dari hati yg mendendam, perilaku yg buruk, dari manapun. Apalagi, niat yg suci dan akhlak mulia.
Bahwa eksistensiNya, tak terbatas waktu dan ruang. Ia harus hadir bahkan dalam hati terburuk sekalipun

No comments: