Saturday, February 2, 2013

bla bla bla versus penginderaan


Seorang kakak mempunyai dua adik, salah seorang adiknya bertanya
Adik 1 : Air payau itu apa sih kak?
Kakak : air payau itu campuran air laut dan tawar, biasanya kadar garamnya lebih kecil daripada air asin. Blaaa..blaa...
Adik 1 : oww.. (antara paham dan mengiya saja. Tapi dari raut muka, ia terlihat kebingungan)
Suatu hari, seorang adiknya yang lain diajak ke sebuah pantai, disisi pantai ada muara sungai.
Kakak : adik, ayo ikut kakak.
Maka dibawalah ia ke muara itu.
Kakak : sekarang cobalah rasakan airnya!
Adik 2 : bebebhhkh, asin kak (raut mukanya mengernyit)
Kakak : sekarang coba ini (sambil berjalan ke arah pantai dan menunjuk air laut)
Adik 2 : bebebhkkh, lebih asin kak, asin sekali malah (raut mukanya jauh lebih mengernyit)
Kakak : yang tadi itu namanya air payau, ini air laut.
Adik : ow begitu ya. Payau ya kak (ekspresinya menunjukkan pemahaman)

Ini lah metode penginderaan. Mendefinisikan menjadi lebih mudah,
“air payau adalah ini, air laut adalah itu”
Bukan bla bla bla yang terlihat rumit dan butuh kecakapan khusus.
Bahkan definisi-definisi itu akan muncul terlebih dahulu, sebelum muncul istilahnya. Tinggal diintepretasi dalam sebuah nama.
“kalau yang ini namanya air payau, yang itu namanya air laut”
Ibarat music, na naaa naa (alunan instrumen music) itu sudah bisa mendeskripsikan sebuah perasaan gembira, tinggal apakah gembira itu karena ditinggal pacar, lulus ujian, di traktir Dawet Banjar  atau gembira-gembira spiritual tergantung bagaimana diintepretasikan dalam bentuk lirik-lirik.
Seperti itu jugalah yang coba Sekolah Habitat Indonesia (SHI) lakukan.


No comments: